Saturday, May 11, 2013

Cara Budidaya Ikan Lele Organik


Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dapat dibudidayakan secara komersial. Beberapa keunggulan ikan lele antara lain (1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, (2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai, (3) pemasarannya mudah, dan (4) modal usaha yang dibutuhkan rendah. Di Indonesia saat ini terdapat 3 jenis ikan lele yang budidayanya sudah berkembang, yaitu lele lokal (Clarias bathracus), lele dumbo (Clarias garipienus), dan lele sangkuriang (Clarias sp.) yang merupakan lele dumbo hasil perbaikan mutu hasil riset BBAT Sukabumi.

Pemilihan Lokasi Budidaya Ikan Lele Organik

Cara Budidaya Ikan Lele Organik dapat dilakukan di areal dengan dengan ketinggian 1-800 m dpl. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun kualitas air tidak terlalu memerlukan kriteria khusus. Dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik (terpal). Untuk pembesaran di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan terbatas lainnya. Sumber air dapat berasal dari irigasi, air sumur, ataupun air hujan yang sudah dikondisikan terlebih dahulu. Parameter kualitas air yang baik untuk pemeliharaan ikan lele adalah suhu air berkisar antara 22-32 0C (suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan nafsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air), pH sekitar 6-9, dan oksigen terlarut > 1 mg/l.

Konstruksi Kolam Budidaya Ikan Lele Organik

Bentuk kolam tanah yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1-1,5 m dengan kemiringan dasar kolam dari pemasukan air kearah pengeluaran air + 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kemalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air dan caren (kobakan). Parit dibuat dengan lebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm. Pintu pengeluaran air dapat berupa monik (terbuat dari semen/tembok yang terdiri dari 2 bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran) atau siphon (terdiri dari pipa paralon yang terpasang di dasar kolam dengan bantuan pipa berbentuk “L” mengarah ke atas sesuai dengan ketinggian kolam).

Untuk bak tembok maupun bak terpal, bentuk dan ukuran disesuaikan dengan luas lahan yang tersedia, diusahakan mudah dalam pengelolaan, pengawasan serta tidak sulit saat melalukan proses panen.


Persiapan Kolam Budidaya Ikan Lele Organik

Untuk kolam tanah (tradisional), persiapan yang dilakukan antara lain pengeringan kolam selama 5-7 hari atau hingga tanah retak-retak. Selanjutnya, dilakukan pengolahan dasar kolam (pencangkulan dan pembajakan tanah dasar kolam, perbaikan pematang); pembuatan kemalir dan caren; pengapuran menggunakan kapur tohor (CaO) dosis 50-200 gr/m2; pengisian air setinggi 10 cm dilanjutkan pemupukan menggunakan kotoran ternak dengan dosis 500-700 gram/m2, urea 15 gram/m2, SP36 10 gram/m2, dan dibiarkan selama + 5-7 hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami. Selanjutnya, dilakukan penambahan air yang disesuaikan dengan ukuran benih yang akan di tebar. Untuk benih berukuran 3-5 dan 5-8, sebaiknya ketinggian air antara 40-60 cm, sedangkan untuk benih berukuran 8-12 cm dengan ketinggian air antara 80-100 cm. Persiapan untuk kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Namun, tidak dilakukan pengolahan tanah dasar kolam.


Penebaran Benih Budidaya Ikan Lele Organik

Benih sebaiknya disucihamakan (didisinfektan) dengan perendaman menggunakan larutan Kalium Permanganat/PK (KMnO4) dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/L selama 5-10 menit. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas dengan padat tebar benih 35-50 ekor/m2 (ukuran benih antara 5-8 cm).

Pemberian Pakan Budidaya Ikan Lele Organik

Selama pemeliharaan dilakukan pemberian makanan tambahan berupa pellet dengan kandungan protein > 28% dan dosis pemberian 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Frekuensi pemberian pakan 3-4 kali setiap hari. Untuk pakan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1, campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.



No comments:

Post a Comment